Selasa, 26 Mei 2015

Kisah Ratna Meraih Sukses dari Botol Bekas



Mungkin Sebagian orang menganggap botol-botol bekas adalah sampah yang tidak berguna. Namun bagi Ratna Miranti botol bekas adalah barang yang sangat berarti.
Kisah Ratna Meraihkan Sukses dari Botol BekasIa mampu mengubah barang itu menjadi sesuatu yang amat bernilai. Sebagai seorang perajin lukisan di atas kaca, botol, gelas dan barang yang terbuat dari kaca lainnya.
Ratna mengawali karirnya sejak tahun 2009, bisnisnya dimulai dari sebuah kecelakaan. Ia sebelumnya berprofesi sebagai perajin batik. Ratna dulunya suka membatik. Tapi batik makin kesini makin banyak dan makin ketat. Akhirnya saya vakum 2 tahun karena mengurus anak,” tutur Ratna.
Ratna memutuskan untuk memulai usahanya lagi. Namun, pada saat ingin membeli bahan baku cat untuk batik, ia malah membeli cat untuk kaca. Ia pun iseng-iseng, mencoba melukis di atas kaca.
Saya salah beli, Malah beli untuk cat kaca. Tapi saya coba untuk buat di botol, di gelas. Ternyata temen-temen suka,” tutur Ratna.
Namun, kejadian itu tak serta merta membuat dirinya percaya diri untuk menumbuh kembangkan usahanya menjadi besar. Pada saat itu, Ratna masih menjual produknya berdasarkan pesanan konsumen.
Ratna Meraihkan Sukses dari Botol Bekas“Saya bikin dulu, karena pada dasarnya saya hobi melukis. Waktu itu bertepatan sama Natal, jadi banyak pesanan bernuansa Natal. Pemasaran saya masih mulut ke mulut, di blog, atau bawa ke tempat ibu-ibu arisan,” papar Ratna.

Pameran Membawa Berkah

Barulah pada tahun 2010, genap setelah usahanya berusia 1 tahun, dia mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran Inacraft di Jakarta. Disitulah kesempatan besar bagi Ratna untuk memperkenalkan produknya.
Untuk mengembangkan usahanya itu dia mendapatkan suntikan modal dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui programnya yaitu Unit Layanan Mikro Madani sebesar Rp 50 juta.
“Untuk nambah modal. Biaya bahan baku dan yang lain,” ucapnya. Sampai saat ini, omzet yang didapat Ratna dengan produknya yang dinamai ‘Meerakatja’ ini mencapai Rp 30 juta/bulan. Padahal sebelum menjadi besar, dia hanya bisa meraup Rp 3-5 juta per bulan.
Kisah Ratna Meraihkan Sukses dari Botol Bekas1“Awalnya omzet Rp 3 juta, paling tinggi Rp 5 juta. Karena jualnya juga perorangan. Modal awalnya juga pertama Rp 500 ribu,” katanya.
Untuk urusan bahan baku, Ratna mengaku tak kesulitan. Ia pun sering memesan botol-botol bekas penjual jamu. Namun untuk catnya, Ratna menggunakan cat yang diimpor dari Jerman melalui distributor langganannya. Tak hanya melukis di atas botol, Ratna pun menerima pesanan untuk melukis interior rumah berbahan baku kaca, kaca cermin, vas bunga, gelas, tempat lampu, guci dan lain sebagainya.
“Harganya dari Rp 25 ribu hingga Rp 2,5 juta,” ucapnya. Produknya ini masih banyak tersebar di wilayah Jakarta dan Bandung. Beberapa produknya pun telah masuk pasar internasional. Namun, ia tidak secara langsung mengekspor produknya ke luar negeri, melainkan melalui perantara.

Kisah Ratna Meraihkan Sukses dari Botol Bekas2“Kalau yang namanya benar-benar ekspor sih belum. Tapi ada pesanan beberapa orang untuk tujuannya ke luar, Kanada, Jerman, tapi tetap Saya berhubungannya dengan orang Jakarta,” papar Ratna.
Sampai saat ini, Ratna memiliki 3 pegawai tetap yang bekerja sebagai pemberi warna pada karyanya. Urusan desain dan lukisan dasar, Ratna lah yang turun tangan. “Kalau pesanan lagi banyak, kita bisa sampai 15 orang,” cetusnya. Jika tertarik dengan hasil karya Meeraktja ini, anda bisa langsung datang ke Jalan Sangkuriang O-2, Bandung.

Teori Bisnis Internasional

Sama halnya dengan ekonomi internasional, bisnis internasional juga memiliki teori-teori yang mendasari eksistensinya. Teori-teori ini muncul sejak lama dan disebabkan oleh banyak faktor, seperti semakin kuatnya negara-negara bangsa, dan hal itu mempengaruhi juga sistem perdagangan internasional. Setiap negara pasti melakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya, maka dari itu muncullah teori-teori yang berdasarkan pada fenomena nyata tersebut. Teori-teori yang sejak lama telah muncul yaitu merkantilisme, teori klasik dan comparative advantage (Ajami, 2006 : 50).

            Merkantilisme, seperti yang kita tahu mendukung ekspor sebesar-besarnya dan memperkecil impor.  Penganut merkantilisme menganggap dengan ekspor sebesar-besarnya maka keuntungan juga semakin besar. Hal itu menyebabkan terjadinya monopoli dan monopoli sepenuhnya dari pemerintah. Rakyat terutama yang menjadi koloni pada masa itu merasa tersiksa, karena mereka harus memenuhi permintaan pemerintah untuk melakukan produksi sebanyak-banyaknya, dan nantinya mereka sendiri juga ikut mengkonsumsi. Selanjutnya teori klasik, yang berkaitan dengan absolute advantage. Teori ini muncul bertepatan dengan revolusi Amerika, revolusi industri dan revolusi Perancis. Teori ini yang mendukung kebebasan dalam bisnis dan perdagangan (Ajami, 2006 : 48). Smith percaya bahwa politik dan pasar harusnya terpisah, karena ada invisible hand. Sehingga pasar akan mencapai equilibrium dengan sendirinya. Namun ternyata pernyataan ini tidak mampu menjawab Great Depression yang terjadi. Kemudian Comparative Advantage, dimana suatu negara memilih salah satu produks yang efisen untuk diproduksi.
            Teori-teori awal tersebut semakin lama semakin tidak relevan dengan perekonomian internasional saat ini, karena adanya beberapa kelemahan seperti yang diungkapkan oleh Ajami (2006, 50), yaitu adanya pengetahuan yang sempurna mengenai pasar internasional dan peluang, perpindahan penuh pekerja dan faktor produksi ke luar negara dan padat karya di setiap negara. Selain itu, setiap negara beranggapan bahwa tujuan mereka adalah efisiensi produksi penuh. Ajami juga menambahkan, bahwa teori-teori yang ada hanya memberikan situasi perdagangan antara dua negara saja, padahal kenyataannya, banyak negara yang turut serta dalam perdagangan internasional, sehingga teori tersebut tidak bisa dinamis. Kemudian, kelemahan lain yang sebenarnya memiliki dampak yang lebih signifikan adalah para ahli teori ini tidak memperhitungkan faktor produksi selain pekerja, seharusnya menjadi pertimbangan dalam efisiensi produksi. Hal-hal tersebut kemudian mendukung munculnya teori-teori yang lebih modern (Ajami, 2006 : 50)
            Termasuk dalam teori-teori modern, yaitu International Product Life Cycle (PLC) dan teori Ekonomi Pembangunan. PLC lebih menekankan intrinsik suatu produk, maka tidak heran bila teori ini selalu mengutamakan inovasi. Menurut Vernon (1966 : 163), untuk menghasilkan produk yang baru dan bermanfaat dalam inovasinya, maka dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang berkualitas. Terdapat tiga tahapan dalam PLC yang menjadikan produk tersebut menuju kedewasaannya, yaitu ditemukannya produk baru oleh negara penemu ataupun negara maju, kemudian tahap kedewasaan produk oleh negara-negara berkembang biasanya, dan tahap terakhir yaitu standarisasi produk oleh negara penemu produk (Vernon, 1966 : 164).
PLC berdampak pada semakin gencarnya investasi internasional, karena negara-negara penemu produk inovatif tersebut, memiliki keinginan untuk melebarkan pasarnya secara global, selain itu teknologi canggih yang digunakan membuat faktor biaya produksi semakin rendah. Namun, PLC juga memiliki kelemahan, karena pengaplikasiannya lebih cocok pada produk yang menggantungkan pada kemajuan teknologi, selain itu tidak semua produk dapat digolongkan ke dalam tahapan pendewasaan tersebut dan lebih cocok pada produk yang diproduksi secara masal (Vernon, 1966 : 165).
Kemudian muncul beberapa pertanyaan dari para penstudi, seperti Paul Krugman dan Michael Porter yang menekankan pentingnya persaingan global. Mereka melihat bahwa pasar harus dinamis sehingga dapat semakin berkembang, hal itu tentu saja menandai interaksi yang lebih luas lagi bukan hanya antar negara namun masyarakat internasional. Sehingga muncullah teori strategi perdagangan, seperti contohnya Competitive Advantage oleh Michael Porter. Teori ini menjadikan pemerintah dan swasta saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan yaitu, menjadikan produk dalam negeri dapat bersaing aktif dengan produk luar negeri. Teori ekonomi Pembangunan juga termasuk dalam teori modern. Dalam teori ini, dijelaskan bahwa pembangunan ekonomi suatu negara dibutuhkan agar pertumbuhan ekonomi tercipta. Untuk mencapai pembangunan tersebu, maka harus ikut dalam ekonomi dunia.
            Semua teori tersebut, menegaskan bahwa perdagangan mendorong manusia untuk melakukan ekspansi ke luar negaranya (investasi), dengan melakukan investasi maka perekonomian secara dinamis mampu menciptakan keadaan yang kompetitif dan selanjutnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi pula. Pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi pembangunan ekonomi suatu negara pula. Seperti yang dikatakan Rostow, bahwa terdapat lima level dalam pertumbuhan ekonomi, yaitu level masyarakat tradisional, prakondisi lepas landas, lepas landas, menuju kepada kedewasaan dan era konsumsi masa tinggi. Untuk mencapai level tertinggi dibutuhkan modal, teknologi dan tenaga kerja yang berkualitas pula. Maka dari itu, penting bagi suatu negara untuk memajukan pendidikannya, karena hal itu akan berdampak besar pada pembangunan negara tersebut. Tetapi selain itu stabilitas keuangan suatu negara juga harus mendapat perhatian, karena perekonomian berhubungan erat dengan keuangan. Investasi besar yang dilakukan oleh negara lain belum tentu memberikan keuntungan besar pula, contohnya MNCs yang semakin meraja di Indonesia, bisnis tersebut memberikan keuntungan bagi Indonesia namun tidak sebanding dengan keuntungan yang dimiliki oleh negara asalnya. Maka dari itu, Cina misalnya, sangat ketat dalam seleksi investasi yang masuk ke negaranya. Ia memberlakukan perjanjian-perjanjian yang dirasa menguntungkan kedua belah pihak. Seperti dengan Ford yang diminta untuk melakukan joint venture, hal ini termasuk dalam salah satu strategi perdagangan yang kompetitif dalam persaingan global.

3 Cara Berbisnis dengan Modal Kecil

Modal kecil bukan alasan Anda untuk mengurungkan niat berbisnis. Menurut Hermas Puspito dari Ednovate Marketing, untuk memulai bisnis tidak melulu harus memiliki modal dalam bentuk uang. Setidaknya, bisa dimulai dengan memiliki keyakinan yang kuat akan bisnisnya.

Tiga cara berikut ini bisa menjadi modal pengganti uang untuk Anda yang ingin memulai berbisnis. Jika bisa dijalankan dengan tekun, akan mengantar Anda kepada kesuksesan.

Reseller. Di sini Anda berperan sebagai penjual produk milik orang lain. Biasanya para pemilik produk akan menawarkan sistem ini setelah ia percaya bahwa orang yang dipilih tepat menjadi reseller.

Dropship. Mirip dengan reseller. Hanya saja, Anda tidak perlu memegang atau memiliki produknya karena Anda cukup membantu mempromosikan produk hingga barang tersebut terjual. Anda tinggal melakukan transaksi, sedangkan pengemasan dan pengiriman barang kepada konsumen adalah urusan pemilik produk. Anda akan mendapatkan fee marketing sesuai kesepakatan dengan pemilik produk.

Bisnis Jasa. Pernah Anda bayangkan apa modal seorang penulis sukses? Keahliannya menulis. Ya, Anda pun bisa menggunakan keahlian yang Anda miliki sebagai modal untuk memulai bisnis. Perancang baju, penulis, fotografer adalah beberapa contoh bisnis jasa yang selalu dibutuhkan.

Konsep Bisnis yang Matang Menentukan Kesuksesan

Menurut tokoh A Pakerti, berwirausaha itu senantiasa berhubungan dengan dua unsur pokok, yaitu peluang dan kemampuan menanggapi peluang tersebut. Maksudnya, keadaan yang tidak pasti di masa depan harus dilihat sebagai sebuah peluang berwirausaha. Selain itu, kemajuan teknologi juga menciptakan peluang berwirausaha. Secara spesifik, kemajuan teknologi memudahkan para wirausahawan berdagang secara online, yang pastinya tidak membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk memasarkan produk atau jasanya.
Nah, kalau peluang sudah ada, pertanyaan berikutnya adalah mampukah kita menanggapi peluang tersebut dengan baik? Menurut ahli wirausaha bernama Wesper, perilaku wirausaha sebenarnya adalah sebuah kerja. Berhasil atau tidaknya kerja tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
  • Pemilihan tempat kerja
  • Bagi netpreneur, pemilihan tempat kerja berkaitan erat dengan internet. Jejaring sosial, atau akrab dikenal sebagai media sosial, banyak dipilih netpreneur sebagai “tempat kerja”nya. Netpreneur harus memiliki akun-akun di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan situs pribadi. Keberhasilan netpreneur dalam memasarkan produk dan jasanya terletak pada kemampuannya menggunakan “tempat kerja” online-nya ini secara optimal. Memiliki akun di Facebook namun jarang melakukan posting dan update tentang produk dan jasa yang dijualnya? Sudah pasti tidak akan banyak orang yang tahu merek produk yang ia miliki. Akibatnya, ia tidak akan mendapatkan konsumen.
    Akun-akun yang dimiliki seorang netpreneur harus sesering mungkin di-update agar produk dan jasa yang ditawarkan juga sering muncul di timeline orang banyak. Semakin banyak orang yang membaca hasil posting dari si netpreneur, maka publik akan semakin aware terhadap brand milik netpreneur tersebut.
    Contoh lain dari pemilihan “tempat kerja” netpreneur adalah pemilihan domain situs. Jika situs yang dimiliki netpreneur untuk berjualan adalah akun dari sebuah blog gratisan, profesionalisme netpreneur tersebut pasti akan dipertanyakan oleh orang banyak. Lain halnya kalau seorang netpreneur membeli domain untuk situs pribadinya. Profesionalismenya akan dipandang baik oleh orang banyak. Orang banyak pun akan berpandangan bahwa produk atau jasa yang dijual si netpreneur bukanlah produk atau jasa yang sembarangan. Membeli domain pribadi diibaratkan sebagai membangun “tempat kerja” yang bagus. Jika “tempat kerja” sebuah perusahaan bagus, maka perusahaan tersebut akan dianggap bonafit oleh orang yang melihatnya.
  • Pemilihan bidang usaha
  • Wesper mengatakan, apa yang dipilih wirausahawan sebagai bidang usahanya juga mempengaruhi kebehasilan usahanya. Netpreneur juga harus bisa memilih bidang usaha yang tepat bagi dirinya, di samping mempertimbangkan peluang bidang usaha tersebut di pasaran online. Jika suatu produk sudah banyak dijual secara online, maka kemungkinan keberhasilan penjualan produk yang sama oleh seorang netpreneur akan semakin kecil. Netpreneur harus jeli dalam melihat produk atau jasa apa yang belum marak ditawarkan dalam pasar online.
  • Kemampuan dalam menyusun dan menerapkan manajemen yang tepat
  • Artinya, netpreneur harus mampu mengelola sistem kerjanya di dunia online. Ia harus konsisten dalam melakukan maintenance terhadap seluruh tentang produk dan jasa yang dijualnya. Contoh lain dari manajemen yang tepat adalah kemampuan netpreneur dalam menentukan buyer yang serius dan yang tidak. Jika ada buyer yang telah memesan produk namun belum melakukan pembayaran dalam waktu yang telah ditentukan, ada baiknya produk tersebut ditawarkan kembali dalam pasar online. Kemampuan manajemen yang tepat seperti ini harus dimiiki oleh netpreneur agar usahanya berhasil dan berkembang.